NAMA :AI SA’ADAH
NRP :H24100045
LASKAR 8

KEINGINAN YANG TERTAHAN
Saat itu, saya sedang menonton film di TPI. Saya tertarik menonoton film tersebut.
Film tersebut menceritakan seorang akhwat sholehah yang selalu berdzikir dimanapun dia berada, dia pun berkerudung dan sangat anggun. Dia bekerja di debah rumah yang buta tentang islam. Rumah itu dihuni oleh sepasang suami istri yang belun dikaruniai seorang anak. Mereka merupakan bisnisman dan bisniswoman. Selain sebagai pembantu, wanita tersebut mengajarkan mereka tentang agama. Singkat cerita, wanita tersebut meninggal dunia dan setelah sepuluh tahun kemudian, jasad wanita tersebut terap utuh. Hati saya tergugah, waktu itu saya baru kalas 2 SMP.
Setelah menonton film tersebut, saya bertekad untuk berkerudung, dan saya melakukannya. Namun sayang, hal tersebut hanya bertahan satu semester saja. Waktu itu, saya berpikr saya masih mandi di WC umum dan aju olahraga saya pendek, jadi percuma saja jil\ka saya memakal jilbab. Saya pin melepad jilbab saya.
Hidayah pun datang kembali, mama saya membuat kamar mandi prubadi dan saya merasa sangat senang. Dalam hatu saya berjanji SAYA AKAN BENAR-BENAR BERKERUDUNG. Hidayah yang lain pun datang, saya masuk ke sekolah yang tidak saya inginkan, tapi di sana saya bertemu dengan kakak-kakak kelas yang bersikap sama seperti wanita yang ada di film itu. Saya pun semakin senamg, saya bersyukur atas hidayah ini. Setelah masuk ke sekolah ini pun, saya menemukan cahaya yang selama ini saya cari.

SEORANG ADIK YANG BAIK HATI
Dua laki-laki bersaudara bekerja di sebuah pabrik kecap dan sama-sama belajar agama islam untuk sama-sama mengamalkan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari semaksimal mungkin. Mereka berjalan kaki mengaji kerumah gurunya yang jaraknya sekitar 10 KM dari rumah peninggalan orangtua mereka.

Suatu ketika sang kakak berdo’a memohon rezeki untuk membeli sebuah Mobil supaya dapat dipergunakan untuk sarana angkutan dia dan adiknya bila pergi mengaji. Allah mengabulkannya, tak lama kemudian sebuah mobil dapat dia miliki dikarenakan mendapatkan bonus dari perusahaannya bekerja.

Lalu sang kakak berdo’a memohon seorang istri yang sempurna, Allah mengabulkannya, tak lama kemudian sang kakak bersanding dengan seorang gadis yang cantik serta baik perangai.

Kemudian berturut-turut sang Kakak berdo’a memohon kepada Allah akan sebuah rumah yang nyaman, pekerjaan yang layak, dan lain-lain dengan itikad supaya bisa lebih ringan dalam mendekatkan diri kepada Allah. Dan Allah selalu mengabulkan semua do’anya itu.

Sementara itu sang Adik tidak ada perubahan sama sekali, hidupnya tetap sederhana, tinggal di rumah peninggalan orang tuanya yang dulu dia tempati bersama dengan Kakaknya. Namun karena kakaknya seringkali sibuk dengan pekerjaannya sehingga tidak dapat mengikuti pengajian, dan sang adik sering kali harus berjalan kaki untuk mengaji kerumah guru mereka.

Suatu saat sang Kakak merenungkan dan membandingkan perjalanan hidupnya dengan perjalanan hidup adiknya, dan dia teringat adiknya selalu membaca selembar kertas apabila dia berdo’a menandakan adiknya tidak pernah hafal bacaan untuk berdo’a. lalu datanglah ia kepada adiknya untuk menasihati adiknya supaya selalu berdo’a kepada Allah dan berupaya untuk membersihkan hatinya, karena dia merasa adiknya masih berhati kotor sehingga do’a-do’anya tiada dikabulkan oleh Allah azza wa jalla.

Sang adik terenyuh dan merasa sangat bersyukur sekali mempunyai kakak yang begitu menyayanginya, dan dia mengucapkan terima kasih kepada kakaknya atas nasihat itu.

Suatu saat sang adik meninggal dunia, sang kakak merasa sedih karena sampai meninggalnya adiknya itu tidak ada perubahan pada nasibnya sehingga dia merasa yakin kalau adiknya itu meninggal dalam keadaan kotor hatinya sehubungan do’anya takpernah terkabul.

Sang kakak membereskan rumah peninggalan orang tuanya sesuai dengan amanah adiknya untuk dijadikan sebuah mesjid. Tiba-tiba matanya tertuju pada selembar kertas yang terlipat dalam sajadah yang biasa dipakai oleh adiknya yang berisi tulisan do’a, diantaranya Al-fatehah, Shalawat, do’a untuk guru mereka, do’a selamat dan ada kalimah di akhir do’anya:

“Yaa, Allah. tiada sesuatupun yang luput dari pengetahuan Mu,

Ampunilah aku dan kakak ku, kabulkanlah segala do’a kakak ku, bersihkanlah hati ku dan berikanlah kemuliaan hidup untuk kakakku didunia dan akhirat, ”

Sang Kakak berlinang air mata dan haru biru memenuhi dadanya, tak dinyana ternyata adiknya tak pernah satukalipun berdo’a untuk memenuhi nafsu duniawinya.

IPB Badge
kami adalah insan asrama
bersatu padu membina bangsa
gali potensi diri
raih prestasi tinggi tuk menjadi insan sejati

*kami dalah insan asrama
bersatu padu membangun negeri
meraih cita tinggi
menggapai asa pasti
berkorban demi bumi pertiwi

bersama di asrama
memegang teguh kebenaran
bersama di asrama
menjunjung kebersamaan

back to *

satukan hati
raih cita hakiki
takkan hilang
waktu berganti…..